Pembahasan Makalah I'jaz || Teori As Sharfah

PEMBAHASAN

A. Pengertian I’jaz (Kemukjizatan)

Secara etimologi Kata I’jaz adalah isim mashdar dari ‘ajaza-yu’jizu-i’jazan yang mempunyai arti “ketidakberdayaan atau keluputan” (naqid al-hazm). Kata i’jaz juga berarti “terwujudnya ketidakmampuan”, seperti dalam contoh: a’jaztu zaidan “aku mendapati Zaid tidak mampu”.

Sedangkan menurut terminologi, di dalam buku “Mukjizat Al-Qur’an” karya Prof. Dr. Quraish Shihab, Mukjizat didefinisikan sebagai “suatu hal atau peristiwa luar biasa yang terjadi melalui seorang yang mengaku nabi, sebagai bukti kenabiannya yang ditantangkan kepada yang ragu, untuk melakukan atau mendatangkan hal serupa, namun mereka tidak mampu melayani tantangan itu”.

Mukjizat memiliki syarat-syarat tertentu agar bisa dinamakan dengan mukjizat. Para ulama’ membagi syarat-syarat tersebut menjadi lima, dan apabila tidak terpenuhi salah satu dari kelima syarat tersebut, maka tidaklah disebut dengan mukjizat. Kelima syarat tersebut adalah:

1. Mukjizat harus berupa sesuatu yang tidak disanggupi oleh selain Allah sekalian alam.

2. Tidak sesuai dengan kebiasaan dan berlawanan dengan hukum alam.

3. Mukjizat harus berupa hal yang disaksikan oleh seorang yang mengaku membawa risalah Ilahi sebagai bukti atas kebenaran pengakuannya.

4. Terjadi bertepatan dengan pengakuan Nabi yang mengajak bertanding menggunakan mukjizat tersebut.

5. Tidak ada seorangpun yang dapat membuktikan dan membandingkan dalam pertandingan tersebut.


  M. Quraish Shihab, Mukjizat Al-Qur’an: Ditinjau dari Aspek Kebahasaan, Isyarat Ilmiah, dan Pemberitaan Gaib (Jakarta: Mizan, 2004), hlm. 23.
  Said Agil Husin Al Munawwar dan Masykur Hakim, I’jaz Al-Qur’an dan Metodologi Tafsir (Semarang: Dina Putra Semarang, 1994), hlm. 1-2.



B. I’jaz Al-Qur’an dan Fungsinya Bagi Kerasulan Nabi Muhammad Saw.

Pada masa Nabi Muhammad yang menjadi kaum elit penguasa adalah para pujangga dan orator dimana mereka bisa mempengaruhi berbagai kabilah-kabilah dan mayoritas bangsa arab saat itu dengan kemampuan mereka membuat puisi dan orasi. Ketertarikan bangsa arab kepada dunia sastra sangatlah mengakar jauh 150 tahun sebelum hijrah tepatnya 500M.

Kemampuan bahasa dan retorika mereka sangatlah luar biasa, setiap setahun sekali mereka mengadakan lomba puisi dan orasi di pasar ukaz, bagi pemenang hasil karyanya akan ditulis dengan tinta emas dan ditempelkan di dinding ka’bah, puisi-puisi tersebut yang disebut dengan Muallaqot.

Begitu besar perhatian bangsa arab saat itu terhadap dunia bahasa dan sastra, sehingga banyak sekali orang yang pakar dalam bahasa berpropesi sebagai penyair dan menjual syair-syair mereka kepada para penguasa dengan bayaran yang mahal.

Maka dari itu Allah mengutus Nabi Muhammad dengan mukjizat Al-Qur’an sebagai tandingan para ahli bahasa dan sastra (penyair) dan menantang mereka dengan membuat bahasa dan uslub permisalan seperti Al-Qur’an (QS. Al-Isra:88), (QS. Hud: 13-14), (QS. Yunus: 38).

Tetapi tidak seorang pun dari kalangan ahli bahasa, orator, penyair yang mampu menjawab tantangan itu dan mereka semua terperdaya oleh mukjizat Al-Qur’an, bahkan banyak kalangan penyair berbondong-bondong masuk islam seperti Hasan Bin Tsabit, Ka’ab Ibnu Malik Al Ansori, Abdullah Ibnu Rawahah dan Al-Hutay’ah.

Allah telah mengkaruniakan Nabi kepada para umatnya untuk membawa perkara yang mampu meruntuhkan perkara yang paling menakjubkan bagi umatnya dan merobohkan segala sesuatu yang mereka anggap paling kuat.

C. Teori Ash-Sharfah Mengenai Kemukjizatan Al-Qur’an

Ada sekelompok pemikir yang mengakui ketidakmampuan manusia dalam menyusun semacam Al-Qur’an, tetapi menurut mereka ini bukan dikarenakan kemukjizatan atau keistimewaan Al-Qur’an sendiri, tetapi lebih dikarenakan campur tangan Allah yang membuat manusia tidak mampu membuat semacam Al-Qur’an. Dan teori inilah menamai mukjizat Al-Qur’an dengan nama “Mukjizat Ash-Sharfah”.

Kata Ash-Sharfah sendiri berasal dari kata dasar sharafa yang berarti memalingkan. Dalam arti lain bahwa Allah memalingkan kemampuan manusia untuk membuat sesuatu yang serupa dengan Al-Qur’an, sehingga apabila Allah tidak memalingkan kemampuan manusia, maka tidak dipungkiri bahwa manusia dapat membuat semacam Al-Qur’an. Dengan kata lain, mereka menganggap kemukjizatan Al-Qur’an bukan lahir dari Al-Qur’an itu sendiri, melainkan berasal dari faktor eksternal.

Pendapat mereka pada dasarnya ada dua pernyataan tentang ini. Pertama, mengatakan bahwa semangat mereka dilemahkan oleh Allah. Dan Kedua, menyatakan bahwa cara Allah memalingkan adalah dengan mencabut pengetahuan dan rasa bahasa yang mereka miliki dan yang diperlukan guna lahirnya satu susunan kalimat serupa Al-Qur’an.

  M. Quraish Shihab, Mukjizat Al-Qur’an: Ditinjau, hlm. 155-163.

Analisis dari kedua pernyataan tersebut adalah bahwa mereka merasa dirugikan atau berat sebelah dalam memberi tantangan pada mereka yang sebenarnya malah membuat mereka tertantang dan semakin meningkat semangat perlawanannya.

Selanjutnya menanggapi argumen kedua yaitu Allah mencabut kemampuan mereka. Bila kita balik bertanya kapan dicabutnya? Pasti mereka menjawab setelah turunnya Al-Qur’an. Padahal semisal mereka mampu membuat semisalnya, maka pasti ada suatu karya sastra yang mereka hasilkan pada masa sebelum turunnya Al-Qur’an yang dapat menandingi keistimewaan Al-Qur’an.

 Pendapat yang mereka ungkapkan ini juga dibantah dengan pernyataan orang Arab pada masa itu yang bernama Al-Walid Ibn Al-Mughirah yang mengatakan, “Ini bukan ucapan manusia”. Dan juga para kritikus masa kini dan masa lalu membanding-bandingkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan syair. Mereka semua pada menundukan kepala karena kagum akan perbedaan yang amat besar diantara keduanya.

Kembali kepada mereka, mereka juga memiliki dalih lain yaitu:

Pertama, masyarakat Arab mampu mengucapkan kata dan kalimat-kalimat semacam Al-Qur’an. Umar ibn Khattab misalnya pernah mengusulkan kepada Nabi. Usul sahabat Umar ini diterima oleh Al-Qur’an dengan turunya ayat dalam QS Al-Baqarah ayat 125. Suatu ketika, Nabi mendiktekan kepada Abdullah ibn Abi Sarh agar menuliskan ayat-ayat surah al-Mu’minun, yang antara lain berbicara tentang proses kejadian manusia. Belum lagi Nabi selesai membacakan keseluruhan ayat. Kini, kalau kita membuka penggalan surah al-Mu’minun tersebut, maka akan ditemukan ayat yang diucapkan oleh Abdullah ibn Abi Sarh yang tertera di akhir ayat 14.

Kedua, ketika terjadi upaya pengumpulan Al-Qur’an pada masa Khalifah Abu Bakar, beliau memerintahkan pada Umar dan Zaid ibn Tsabit agar berdiri di pintu masjid dan tidak menerima naskah Al-Qur’an selain disertai dua orang saksi.
Dan seandainya Al-Qur’an itu mukjizat dari segi bahasanya, maka tidak diperlukan dua orang saksi karena apabila Al-Qur’an itu mukjizat maka beliau akan dengan mudah membedakannya dengan karya manusia.

D. Segi-segi ‘Ijaz Al-Qur’an

1. Kemukjizatan Al-Qur’an Ditinjau dari Aspek Kebahasaan

Sebagaimana yang telah dikemukakan sebelumnya bahwa Al-Qur’an diturunkan di kalangan orang Arab yang pada saat itu sangat ahli dalam bidang sastranya, maka Al-Qur’an juga memiliki mukjizat dalam aspek sastra atau kebahasaan yang sangat tinggi untuk menandingi dan menunjukkan kelemahan mereka ketika mereka dihadapkan dengan mukjizat Ilahi yang mereka mengakui ketidakmampuannya.

Mukjizat Al-Qur’an dari aspek kebahasaan pertama kali dapat dilihat dari susunan kata dan kalimatnya. Dalam hal tersebut dapat dilihat dari hal-hal berikut ini:

a. Nada dan lagam Al-Qur’an.
b. Singkat dan padat.
c. Keindahan dan ketetapan maknanya.

2. Kemukjizatan Al-Qur’an Ditinjau dari Aspek Pemberitaan yang Ghaib

Surat-surat dalam Al-Qur’an mencakup banyak berita tentang hal ghaib. Kapabilitas Al-Qur’an dalam memberikan informasi-informasi tentang hal-hal yang ghain seakan menjadi prasyarat para utama penopang eksistensinya sebagai kita mukjizat. Diantara contohnya adalah:

a. Sejarah/Keghaiban Masa Lampau
Al-Qur’an sangat jelas dan fasih sekali dalam menjelaskan cerita masa lalu seakan-akan menjadi saksi mata yang langsung mengikuti jalannya cerita. Dan tidak ada satupun dari kisah-kisah tersebut yang tidak terbukti kebenarannya. Diantaranya adalah: Kisah Nabi Musa dan Fir’aun, Ibrahim, Nabi Yusuf, bahkan percakapan antara anak-anak Adam as.

b. Keghaiban Masa Kini
Diantaranya terbukanya niat busuk orang munafik di masa rasulullah. Allah SWT berfirman: Dan diantara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi hatinya padahal ia adalah penantang yang paling keras. (QS. Al-Baqarah:204)

c. Ramalan Kejadian Masa Mendatang
Diantaranya ramalan kemenangan Romawi atas Persia di awal surat ar-Ruum.

3. Kemukjizatan dari Segi Pengetahuan
Tujuan utama Al-Qur’an al-Karim adalah untuk memandu dan memimpin tingkah laku manusia. Karena itu, dakwah dan panduan Al-Qur’an muncul dalam berbagai bentuk dan cara. Apabila kita meneliti tujuan dan metode Al-Qur’an dalam perbincangannya kita dapat banyak ayat-ayat yang berkaitan dengan penciptaan alam semesta termasuk langit, bumi, dan diri manusia.
Al-Qur’an memuat berbagai aspek ilmu pengetahuan yang merupakan penopang kehidupan manusia di muka bumi ini, baik itu ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan ibadah, hukum-hukum maupun ilmu pengetahuan lainnya yang berhubungan dengan alam, seperti bidang ilmu alam, matematika, astronomi, dan banyak lainnya. Kemudian juga dijelaskan oleh firman Allah:

“Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing beredar pada garis edarnya.” (QS. Al-Anbiyaa’: 33)


KESIMPULAN

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa I’jazul Qur’an merupakan bagian terpenting dari Ulumul Qur’an, karena I’jazul Qur’an berfungsi sebagai pembawa kebenaran, bahwa Al-Qur’an yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad saw adalah murni dari Allah SWT dan tidak ada unsur-unsur apapun yang bisa menandingi arti dan makna yang terkandung dalam Al-Qur’an walau satu ayat sekalipun. Bahkan seorang pakar pujangga sastra, ahli dalam seni bahasa Arab, dan kita yang mengimani Al-Qur’an tidak boleh mengingkari kemurnian yang terkandung di dalamnya.
Al-Qur’an merupakan Mukjizat terbesar yang Allah turunkan sebagai pedoman hidup umatnya.

Kita tahu bahwa setiap Nabi yang diutus oleh Allah selalu dibekali mukjizat untuk meyakinkan manusia yang ragu dan tidak percaya terhadap apa yang disampaikan oleh nabi. Aspek-aspek kemukjizatan Al-Qur’an yang dipandang sangat penting meliputi: (1) as-Sharfah, (2) Keindahan bahasa, (3) Ketelitian Redaksi, (4) Kandungan isinya.

Jika seseorang peneliti objektif mencari kebenaran Al-Qur’an dari aspek manapun yang ia sukai, ia akan temukan kemu’jizatan itu dengan jelas dan terang melalui tiga macam kadar kemukjizatan yaitu kemukjizatan bahasa, kemukjizatan ilmiah, dan kemukjizatan tasyri’(penetapan hukum).

pujangga sastra, ahli dalam seni bahasa Arab, dan kita yang mengimani Al-Qur’an tidak boleh mengingkari kemurnian yang terkandung di dalamnya.

Al-Qur’an merupakan Mukjizat terbesar yang Allah turunkan sebagai pedoman hidup umatnya. Kita tahu bahwa setiap Nabi yang diutus oleh Allah selalu dibekali mukjizat untuk meyakinkan manusia yang ragu dan tidak percaya terhadap apa yang disampaikan oleh nabi. Aspek-aspek kemukjizatan Al-Qur’an yang dipandang sangat penting meliputi: (1) as-Sharfah, (2) Keindahan bahasa, (3) Ketelitian Redaksi, (4) Kandungan isinya.

Jika seseorang peneliti objektif mencari kebenaran Al-Qur’an dari aspek manapun yang ia sukai, ia akan temukan kemu’jizatan itu dengan jelas dan terang melalui tiga macam kadar kemukjizatan yaitu kemukjizatan bahasa, kemukjizatan ilmiah, dan kemukjizatan tasyri’(penetapan hukum).




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resume Pola Kegiatan Ekonomi