UTS EMI

 

 

Nama : Muhammad Sulthan Agus Alkaribi

Kelas : MKS 3 D

NIM : 1199230119

ESSAY

 

Judul : MELEMAHNYA EKONOMI GLOBAL DAN INDONESIA AKIBAT COVID-19

 

“Covid-19 pertama kali ditemukan di Wuhan China pada tahun 2019, dan menyebar ke beberapa negara dengan sangat cepat, Indonesia yang waktu itu dikira kebal terhadap covid-19 lambat laun akhirnya terpapar juga covid-19, banyak dari negara yang terpapar virus covid-19 mengalami penurunan ekonomi karena melemahnya sektor distribusi, kebijakan lockdown merupakan salah satu penyebab mengapa ekonomi dunia melemah, fasilitas penerbangan terpaksa ditutup sebagai upaya untuk menghentikan penyebaran covid-19, toko-toko pakaian, sepatu dll, banyak yang ditutup karena kebijakan ini, hal ini menyebabkan kurang nya daya beli masyarakat, yang pada akhirnya menyebabkan ekonomi suatu negara menjadi melemah.

 

Ada beberapa faktor yang menyebabkan ekonomi dunia menjadi melemah yang berdampak pula pada melemahnya ekonomi di Indonesia, selain dari yang telah saya singgung sedikit di atas, seperti yang telah kita ketahui bahwa ekonomi global tengah mengalami turbulensi. Selayaknya pesawat udara, ancaman turbulensi di bidang ekonomi perlu ditindaklanjuti secara tepat. Turbulensi diekspresikan sebagai ketidakstabilan pasar, karena beberapa hal antara lain terorisme global, perang, kenaikan harga minyak, inovasi dan pandemi wabah (Lawton 2003). Beberapa Sektor yang Terdampak dari covid-19 adalah Rantai Nilai Global (Global Value Chain). Perdagangan, produksi, dan pasar keuangan akan berkontraksi akibat turbulensi ini. Banyak negara dan hampir semua sektor akan mengalami penurunan ekspor, dan akan diperparah jika suatu negara atau kawasan telah bergantung pada perdagangan internasional. Dalam kondisi ini, trade off antara pemulihan ekonomi dan proteksi kesehatan masyarakat menjadi pilihan yang cukup sulit. Kebijakan pembatasan interaksi sosial yang diikuti dengan penutupan tempat kerja, serta pembatasan akses transportasi berdampak pada hambatan produksi dan distribusi barang. Selanjutnya Perlunya Keseimbangan Supply and Demand , Ekonomi global dapat terjaga apabila terdapat keseimbangan antara penawaran dan permintaan (supply and demand). Akibat pandemi Covid-19, turbulensi di bidang permintaan terdampak lebih parah dibandingkan faktor penawaran (World Bank, 2020). Selain itu, negara berkembang yang memiliki kecenderungan bergantung pada pendanaan dengan Dolar Amerika Serikat akan meningkatkan risiko lebih tinggi akibat depresiasi mata uang. Menurut World Bank (2020), turbulensi ekonomi global akibat pandemi Covid-19 meliputi goncangan di beberapa sektor. Pertama, sektor Pekerjaan yang akan turun karena karantina wilayah, penutupan pabrik, pengetatan jarak sosial. Kedua, sektor Biaya Perdagangan akan naik pada biaya impor dan ekspor, yang juga didorong oleh kombinasi pengurangan jam operasi, penutupan akses/jalan, perbatasan, dan kenaikan biaya transportasi. Ketiga, Pariwisata akan turun tajam sejalan dengan perkiraan World Travel and Tourist Council tahun 2020. Keempat, Layanan akan beralih, dari layanan yang membutuhkan interaksi seperti transportasi massal, pariwisata, restoran, dan aktivitas rekreasi menjadi konsumsi barang dan layanan lainnya. Turbulensi ekonomi global akibat pandemi Covid-19 terjadi bersamaan dengan memburuknya hubungan dagang antara Amerika dan Tiongkok. Hal ini menyebabkan negara-negara yang tergabung dalam Global Value Chain harus mengoreksi kembali kelangsungan jaringan produksinya. Akibatnya, banyak negara cenderung lebih menyelamatkan kondisi ekonomi nasionalnya dengan menerapkan proteksi dan nasionalisasi produk dalam negeri untuk menjaga stabilitas ekonomi. Praktik tersebut memang tidak bertentangan dengan konsep perdagangan global yang mengacu pada ketentuan World Trade Organization (WTO). Artikel 11 GATT-WTO membolehkan proteksi ekspor produk tertentu dalam waktu sementara untuk mencegah atau mengatasi krisis. Proteksi dan nasionalisasi tersebut sejalan dengan paradigma Jhon Maynard Keynes yang dikuti oleh Presiden Amerika Serikat Theodore D Roosvelt , saat menghadapi resesi hebat tahun 1993 dengan menerapkan prinsip national self-sufficiency. Di tingkat makro ekonomi, kebijakan tentang proteksi dan nasionalisasi, jika diterapkan dalam jangka panjang, akan meningkatkan volatilitas harga dan menghambat pertumbuhan. Untuk menjaga stabilitas ekonomi global, sangat diperlukan kerjasama global antar pemerintah, organisasi non-pemerintah, dan sektor swasta pada sekhingga dapat “beradaptasi” di tengah turbulensi ekonomi global akibat pandemi Covid-19. Lembaga yang bermarkas di Washington, Amerika Serikat (AS), menyebut meningkatnya ketegangan perdagangan dan perdagangan internasional sebagai penyebab perlambatan global tersebut, dilansir dari Reuters.

Kepala Pusat Kajian Iklim Usaha dan Rantai Nilai Global LPEM Universitas Indonesia (UI) Mohamad Dian Revindo mengatakan, dampaknya boleh jadi tidak langsung mempengaruhi perekonomian Indonesia. Sebab, ekonomi nasional masih ditopang oleh konsumsi domestik. Namun, Indonesia bisa terkena dampak melalui 3 jalur, yaitu jalur perdagangan, jalur investasi, jalur keuangan dan pasar modal. Proyeksi jalur perdagangan sudah lebih negatif ketimbang 2 jalur lainnya. "Ekonomi global dikaitkan dengan Indonesia. Itu bisa berpengaruh ke Indonesia lewat jalur perdagangan. Buktinya ekspor melemah sementara mereka (negara dengan pertumbuhan melambat) akan mengekspor ke kita sebanyak-banyaknya," kata Mohamad di Jakarta, Kamis (12/12/2019), Sementara, kata Mohamad, jalur investasi serta jalur keuangan dan pasar modal masih memiliki dua sisi, yakni positif dan negatif. Misalnya saja, negara dengan pertumbuhan ekonomi melambat akan mencari negara yang pertumbuhan ekonomi stabil untuk menaruh investasi. Akan tetapi, bisa jadi tak jadi masuk karena negara-negara tersebut dalam keadaan sulit. Di sisi lain, Mohamad melihat investor asing kerap keluar dari RI setelah mendapat satu kali perputaran investasi. Hal itu terlihat dari angka investasi asing langsung (Foreign Direct Investment/FDI) surplus sebesar 300 miliar dollar AS sedangkan pendapatan primer berada di angka 30 miliar dollar AS. "Investasi masuk, tapi dividen tidak lagi di sini. Artinya minat mereka untuk ekspansi di sini enggak ada. Setelah untung, terus keluar," tutur Mohamad. Untuk itu, pemerintah perlu memperbaiki kemudahan berusaha agar menarik investor asing ekspansi ke Indonesia dan berujung meningkatkan perekonomian negara. Dari semua proses yang telah saya jalani, menjadikan saya pribadi yang lebih peka terhadap masalah sosial di tengah masyarakat. Termasuk masyarakat di perkotaan yang masih berkutat dengan masalah kemacetan, sehingga saya bermimpi bahwa suatu hari Indonesia mampu menghadirkan transportasi massal yang aman, nyaman, cepat, dan terjangkau  dimana membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan.

Langkah Indonesia Untuk Meningkatkan Ekonomi Akibat Pandemi

Sejumlah pakar ekonomi  berpendapat, pembukaan aktivitas ekonomi di tengah pandemi Covid-19 mampu mendorong pertumbuhan ekonomi. Mengingat hal tersebut, pemerintah mengambil langkah cepat dengan menyiapkan lima langkah agar perekonomian nasional kembali positif.

 

Pertama, melakukan belanja besar-besaran guna meredam kontraksi ekonomi akibat pandemi Covid-19.

 

Langkah tersebut dipilih karena, pada masa krisis akibat pandemi Covid-19, belanja pemerintah diakui sebagai instrumen pengungkit pemulihan ekonomi. Di samping itu, sektor swasta dan UMKM harus dipulihkan dengan stimulus.

 

“Lewat belanja besar-besaran, permintaan dalam negeri meningkat dan dunia usaha tergerak untuk berinvestasi,” kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto.

 

Kedua, pemerintah membentuk Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional. Pada komite ini, Airlangga Hartarto bertindak sebagai pemimpin, dan Erick Thohir selaku Ketua Pelaksana.

 

Komite tersebut akan memastikan penanganan kesehatan dan ekonomi berjalan sinergi, dan menjaga pertumbuhan ekonomi pada kuartal III 2020.

Ketiga, pemerintah memberi bantuan kredit berbunga rendah, dan menyiapkan berbagai program agar UMKM bergeliat kembali. Salah satunya adalah kebijakan restrukturisasi dan subsidi bunga kredit.

Keempat, pemerintah menempatkan dana di perbankan guna memutar roda ekonomi.

 

Adapun penempatan yang telah dilakukan adalah Rp 30 triliun di Himpunan Bank Milik Negara, dan Rp 11,5 triliun di Bank Pembangunan Daerah.

 

Berkat langkah tersebut, penyaluran kredit perbankan mulai membaik.Terbukti hingga Rabu (22/7/2020), penyaluran kredit dari penempatan dana di Himpunan Bank-bank Milik Negara (Himbara) telah dilakukan kepada 518.797 debitur, dengan nilai mencapai Rp 43,5 triliun.

 

Kelima, pemerintah melakukan penjaminan kredit modal kerja untuk korporasi.

 

“Perbankan telah menandatangani perjanjian penjaminan, terutama untuk sektor padat karya,” kata Airlangga.

 

Dengan kelima langkah tersebut, pemerintah menegaskan bahwa perkataan segelintir pengamat yang mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan semakin parah hanyalah asumsi negatif.

Terlebih Lembaga keuangan International Monetary Fund (IMF) memprediksi, pada 2021 Indonesia akan menjadi negara dengan pemulihan ekonomi tercepat setelah Cina.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resume Pola Kegiatan Ekonomi

Pembahasan Makalah I'jaz || Teori As Sharfah